Meski Kadang tak Akur, Ibu Tetaplah Tempatku untuk Kembali

Meski Kadang tak Akur, Ibu Tetaplah Tempatku untuk Kembali


16




Ibu tetaplah menjadi tempatku untuk kembali./Copyright shutterstock.com/g/Glowonconcept
Punya momen yang tak terlupakan bersama ibu? Memiliki sosok ibu yang inspiratif dan memberi berbagai pengalaman berharga dalam hidup? Seorang ibu merupakan orang yang paling berjasa dan istimewa dalam hidup kita. Kita semua pasti memiliki kisah yang tak terlupakan dan paling berkesan bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam lomba dengan tema My Moment with Mom ini.



Saya seorang ibu rumah tangga dengan dua orang anak. Awalnya saya dulu gadis yang bisa dibilang bandel. Tak pernah sedikit pun saya patuh sama kedua orang tua saya, apalagi sama ibu saya. Ya bagi saya ibu itu seorang perempuan yang menyebalkan, suka ngatur ngatur hidup saya. Yang suka ngurusi urusan saya. Tak pelak kami sering bertengkar, karena ketidak cocokkan kami. Ibu saya sering menggunakan perasaannya. Dikit-dikit nangis, bisa dibilang dia perempuan yang cengeng. Saya paling tidak suka sama wanita yang lemah, makanya saya tidak pernah akur dengan ibu.

Babak baru dimulai saat saya lulus kuliah dan bekerja. Di situ ego saya makin menjadi. Saya pergi dari rumah karena merasa tidak nyaman dengan sikap ibu yang semakin hari semakin membatasi ruang gerak saya. Saya ingat betul, waktu pergi dari rumah ibu menangis, meneteskan air mata. Aku tahu itu air mata kekecewaan. Gadis kecil yang sudah dewasa tega meninggalkan ibu, ayah, dan keluarga.

Dulu saya tak pernah menghiraukan sakit dan perihnya ibu saya. Ya, saya menjadi sombong karena merasa bisa menghidupi diri saya sendiri. Waktu terus berlalu, sesekali dalam sepekan saya pulang ke rumah. Di rumah saya tidak pernah sama sekali bercengkrama dengan orangtua atau pun keluarga. Kalau pun di rumah saya hanya di kamar saja. Seolah saya sudah tidak peduli dengan keberadaan mereka. Ibu sering menangis dan terluka karena tingkah saya.

Sikap dingin acuh tak acuh itu pun berjalan sampai beberapa tahun. Akhirnya saya menemukan seorang tambatan hati. Seorang laki-laki yang baik, setia, dan sangat dewasa. Kami sudah mantap untuk ke jenjang pernikahan. Ya karena kami sudah sama-sama dewasa dan sudah layak menikah. Tapi kami ditentang dari keluarga masing-masing.

Saya menjadi sangat benci dan kecewa dengan ibu saya. Pikir saya kenapa saya ingin bahagia saja sampai tidak boleh. Hubungan kami bertahan sampai beberapa tahun. Dan nasib pun berkata lain, seorang laki-laki yang saya harapkan memberi kebahagiaan yang saya cari telah dipanggil Tuhan secara mendadak karena kecelakaan. Saat itu hidup saya sudah hancur, tidak ada harapan lagi.



Ibu Selalu Menyambutku dengan Hangat
momen ibu dan anak 6


Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Twinsterphoto
Di saat hidup saya ini gelap dan tanpa harapan, ibu saya datang memeluk, mencium, merangkul. Tak banyak yang ia katakan, sesekali dia menyeka air matanya sendiri melihat saya. Aku yang sakit tapi kenapa ibu saya berasa malah lebih sakit. Saat aku terbaring dan tak punya harapan hidup, ibu selalu berdoa dan meneteskan air mata. Dalam doa lirihnya tersebut namaku.

Ya Tuhan selama ini perempuan yang slalu aku anggap menyebalkan ternyata hatinya bagai malaikat. Berangsur saya mulai bangkit. Ada ibu saya yang slalu berada disamping saya. Dia sekarang lebih membiarkan saya bebas menentukan arah dan tujuan saya sendiri. Saya jadi lebih merasa nyaman dan senang berada di dekat ibu saya.

Hari demi hari saya merasa jauh lebih dekat dengan ibu, saya merasa bahagia. Akhirnya saya pun menikah dan hamil. Saat mau melahirkan anak pertama, perjuangan ibu saya memang luar biasa. Ketika saya mengalami sakitnya kontraksi, kesigapan ibu yang selalu berada di samping saya benar-benar saya rasakan. Sepertinya ibu merasakan sakit yang saya rasakan.

Perjuangan menjadi seorang ibu memang tidak mudah. Untuk kedua kalinya saya merasa ibu adalah sosok yang sangat sangat luar biasanya. Hatinya penuh maaf dan cinta. Saya jadi semakin sayang sama ibu, saya benar-benar takut kehilangan beliau. Karena bagi saya banyak sakit yang saya torehkan ke ibu yang belum bisa saya balas. Kebaikan beliau, rasa cinta kasih yang justru saya anggap sebagai kebencian. Berapa kali sudah membuat kecewa, sakit hati, dan menangis. Ibu dan keluarga adalah tempat kembali.

Ibu jika sakit yang kau rasa, kecewa yang dulu pernah kutorehkan, maafkan anak perempuanmu ini yang belum bisa memberikan yang terbaik untukmu. Semoga ibu selalu diberi kesehatan, panjang umur, dan kebahagiaan. Berikan waktu bagi anakmu untuk membalas semua kebaikan dan pengorbananmu selama ini. Walapun seisi dunia tidak akan sanggup menggantikan kebaikanmu bagi anak-anakmu.

Ibu, takkan kubiarkan air mata menetes di pipimu hanya untuk kesedihan, tapi aku biarkan tetesan air matamu karena kebahagiaan. Ibu, beberapa lembar halaman pun tak akan sanggup menampung ungkapan rasa bangga, cinta, dan sayangku padamu. Terima kasih pahlawanku, pahlawan tanpa tanda jasa, ibuku sayang.

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel