Viral Video Pemuda Jambret Tas Milik Pengemis Tua, Kakek Makmur Nangis: Uang untuk Beli Kain Kafan

 TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Pengemis tua bernama La Makmur (70) menjadi korban penjambretan dua orang pemuda.






Tas lusuh milik Kakek Makmur dijambret dua orang pemuda di Jalan Kartini Kota Baubau, Sulawesi Tenggara.

Rekaman CCTV yang menampilkan detik-detik peristiwa ironis itu viral di media sosial.

Pantauan TribunJakarta.com di video berdurasi kurang dari satu menit itu, dua pemuda yang tampak masih bugar mendekati Kakek Makmur.

Mereka terlihat mengajak pengemis tua itu berbincang dari atas sepeda motor.

Namun tiba-tiba pemuda yang mengenakan kaus berwarna hijau, menarik tas Kakek Makmur dengan kasar.

Dengan tubuh rentanya Kakek Makmur berusaha mempertahankan tasnya, sampai ia jatuh terpelanting ke aspal.

Apa daya, Kakek Makmur kalah tenaga dengan pemuda tak bermoral itu.

Tak cuma rekaman CCTV, di media sosial juga viral video yang memperlihatkan Kakek Makmur menangis menceritakan peristiwa pejambretan yang dialaminya.

Kakek Makmur mengatakan dua pemuda itu mulanya berpura-pura mengajaknya untuk makan.

Ia mengaku tidak mau dan kedua pelaku langsung merampas tas yang ada di pangkuannya.

“Dia ajak makan tapi saya tidak mau, saya lihat matanya di tas terus,” kisahnya.

Dengan suara lemas, Kakek Makmur mengatakan uang yang dijambret merupakan hasil meminta-minta selama 1 bulan.

Ia menjelaskan uang tersebut sengaja dikumpulkannya untuk persiapan membeli kain kafan.

“Untuk beli kain kafanku kasihan. Cuman itu uangku sudah tidak ada lagi,” tutupnya.

Di media sosial Instagram beredar kabar jika salah satu dua pemuda yang merampas tas milik Kakek Makmur sudah ditangkap pihak kepolisian.

Kisah mengiris hati terjadi di Kabupaten Magetan, Jawa Tengah, pada Rabu (20/5/2020).

Seorang pria menangis di pinggir jalan sambil memegang sebuah blender usang miliknya.

Pria yang diketahui bernama Sujono (40) itu, menawarkan blender tersebut ke setiap pejalan kaki yang lewat.

Aksi Sujono direkam penggunan jalan dan akhirnya viral di media sosial.

Pantauan TribunJakarta.com video yang merekam kesusahan Sujono diunggah pemilik akun Facebook, Dendy Ardiyan P.

Di video tersebut terlihat, Sujono yang mengenakan masker menangis mengungkapkan tujuannya menjual blender itu.

"Untuk makan, untuk anak istri saya makan," katanya sambil menangis.
Tak berapa lama, seorang pejalan kaki mengampiri Sujono.

Pejalan kaki itu menanyakan harga blender yang dijualnya.

Pria itu menjawab seikhlasnya asal bisa makan.

Pejalan kaki itu mengeluarkan uang Rp 100.000 dan memberikannya kepada Sujono.

Ia juga meminta pria itu menyimpan blender itu.

Ditemui Kompas.com di kediamannya Sujono mengatakan, terpaksa menjual blender bekas itu di pinggir Jalan Raya Magetan-Maopati karena tak lagi punya uang untuk membeli beras.

Pria yang berprofesi sebagai pedagang pentol keliling itu sudah tiga bulan tak berjualan.

Ia biasa berkeliling di kawasan Pondok Pesantren Al Fatah Temboro Magetan.

Kawasan itu kini ditutup karena menjadi salah satu klaster penyaberan virus corona baru atau Covid-19.

“Sudah tidak mempunyai uang untuk beli beras. Barang yang bisa dijual ya hanya blender,” kata Sujono saat ditemui di rumahnya, Rabu (20/5/2020).

Di rumah itu, Sujono tinggal bersama istri, anak, dan ibunya.

Rumah di Desa Pojok Sari itu merupakan milik ibunya yang sedang sakit.

Setelah kawasan Ponpes Al Fatah Temboro ditutup, Sujono beralih profesi sebagai pengumpul kayu bakar.

Ia dan istrinya mengumpulkan kayu dan bambu kering. Jika beruntung, mereka bisa mendapatkan dua ikat kayu bakar yang dijual keliling kampung.

“Kadang laku Rp 10.000 kadang hanya Rp 5.000. Kalau dari pagi hujan, maka kami tidak mempunyai penghasilan,” katanya.

Tak hanya menghidupi anak dan istri, Sujono juga merawat ibunya yang menderita diabetes.

Meski tergolong kurang mampu, Sujono mengaku belum mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Kepala Desa Pojok Sari, Kabupaten Magetan, Jawa Timur memastikan jika Sujono adalah salah satu penerima bantuan langsung tunai ( BLT) dari Dana Desa (DD).

Dia mengatakan, kepastian Sujono sebagai penerima BLT baru diterima Rabu (20/5/2020) ini.

“Penyaluran BLT baru besok. Jadwalnya baru dikirim oleh Bank Jatim,” ujarnya melalui pesan singkat Rabu malam.

Edy menambahkan, Sujono Kamis pagi menjadi salah satu penerima BLT masyarakat terdampak Covid-19 bersama 57 warga lainnya.

Sujono tidak bisa berjualan pentol keliling di Pondok Pesantren Temboro setelah kawasan tersebut ditutup untuk warga dari luar Desa Temboro.

“Sujono ini bukan penerima PKH maupun penerima bantuan pangan non tunai sehingga masuk sebagai warga penerima BLT,” tambahnya.

Edy mengaku mengetahui jika salah satu warganya terpaksa menjual blender karena tidak beras untuk makan dari warga lain yang melihat postingan di media sosial.

Pada Rabu pagi Edy menyerahkan bantuan sembako serta memberitahukan jika Sujono merupakan salah satu warga penerima BLT.

“Ada sembako kita serahkan tadi dan memberitahukan namanya terdaftar sebagai penerima BLT,” ucapnya.

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel