Cerita Via Vallen Berbohong ke Tentara Israael Mau Ke Jerusalem, Padahal ke Paalestina, Batin Mencekam

 

By  Mei 16, 2021 

Cerita Via Vallen Berbohong ke Tentara Israael Mau Ke Jerusalem, Padahal ke Paalestina, Batin Mencekam






Ini cerita Via Vallen terpaksa berbohong ke tentara Israel ngaku mau ke Jerusalem padahal tujuannya Palestina . Suasana mencekam siang dan malam.

Pedangdut Via Vallen menceritakan pengalaman mencekamnya selama berada di Palestina yang disampaikan langsung melalui Instagram pribadinya, Rabu (12/5/2021) lalu.

"Aku pernah beberapa hari berada di Palestina. Hampir tiap hari suasana mencekam," tulis Via Vallen.

Pelantun lagu Sayang itu bercerita bahwa untuk masuk ke wilayah Palestina pun tak mudah.

Mereka harus mencari akal supaya tidak dipulangkan oleh tentara Israel dari wilayah negara konflik tersebut.

Alih-alih jujur mengatakan ingin ke Palestina, rombongan Via Vallen harus berbohong bahwa mereka akan mengunjungi Kota Jerusalem.

Cara itu terpaksa dilakukan demi bisa menembus Palestina. 

"Dari yang baru mau masuk Palestina gak boleh bilang kalau ke Palestina, kita harus bilang ke jerusalem (karena berisiko dipulangkan ke Jordania)," tutur pedangdut asal Jawa Timur itu. Pecah Perang Saudara di Kota Lod Israel (Istimewa)

Sesampainya di sana pun, keseharian Via Vallen tak berhenti mencekam.

Pasalnya, pedangdut kelahiran Surabaya itu bisa merasakan pedihnya tinggal di negara tersebut yang ditemani dengan suara tembakan di mana-mana.

Bulu kuduknya berdiri mendengar suara tembakan setiap saat, siang atau malam. 

Bahkan untuk beribadah pun akan banyak ditemukan tentara Israel di sepanjang jalan yang membuat hati was-was.

Tatapan mata para tentara Israel terus memantau dan mengawasi gerak-gerak siapa saja yang lalu lalang di jalanan. 

Dan kondisi dan situasi yang sama tetap dia rasakan sesampai di Palestina. 

Aura keprihatinan menyeruak dari wajah-wajah yang dihantui kecemasan melakukan aktivitas di tanah kelahiran sendiri. 

"Sesampainya di Palestina, setiap malam suasananya sunyi banget.

Sampe terdengar suara tembakan di sekitar hotel. Bahkan mau ibadah ke Masjid Al Aqsa harus ngeri karena ngelewatin tentara Israel di sekitar masjid," lanjutnya.

Yang paling memilukan bagi Via Vallen adalah momen ketika ia akan menyumbangkan Al-Quran kepada anak-anak di Palestina.Kejamnya tentara Israel pada rakyat Palestina (AFP Photo)

Via mengatakan bahwa ia merasa seperti tengah menyelundupkan barang haram.

"Kebetulan aku bawa Al-Quran dari Madinah yang mau dibagi-bagikan ke adik-adik di sana.

Tapi rasanya udah kek nyelundupin barang haram," aku Via Vallen.

Mengingat pengalaman mencekam itu pun membuat Via Vallen tak kuasa menahan doanya untuk para warga Palestina.

Ia berharap agar penderitaan mereka segera berakhir.

"Ini aku yang cuma beberapa hari ngerasain suasana mencekam itu, apalagi mereka yang puluhan tahun.

Ya Allah, segera akhiri penderitaan merekaaa #freepalestine #palestine #palestina," tutup Via Vallen.

Ternyata, banyak warganet yang setuju dengan doa yang ada di dalam unggahan Via Vallen itu.

Mereka berharap agar peperangan itu segera berakhir dan tak lagi memakan banyak korban.

Unggahan Via Vallen itu juga merupakan ungkapan rasa prihatinnya atas kondisi perang antara Palestina dan Israel yang tak kunjung usai dan semakin memanas.

Karma Nyata Israel? Dibombardir Roket Hamas, Pecah Perang Saudara di Israel, PM Netanyahu Stres!

Sementara itu, Perdana Menteri Israel dikabarkan pusing menghadapi 2 tekanan sekaligus, yakni dibombardir roket Hamas dan pecah perang saudara di Israel sendiri. 

Israel yang tengah disibukkan oleh serangan Hamas dari Jalur Gaza dan bentrokan di kompleks Masjdi Al-Aqsa, kini harus membagi perhatiannya untuk kota Lod.

Ya, kini Israel tak hanya berhadapan dengan rakyat Palestina yang selama ini ditindasnya, tapi juga harus menghadapi warganya sendiri.

Kota Lod kini telah menjadi pusat dari perang saudara di Israel di mana terjadi bentrokan antara massa dan polisi.


Bentrokan yang disebut tak memicu korban jiwa tersebut telah menyebabkan 30 kendaraan dan sinagoga dibakar.

Perang saudara ini sendiri dipicu ketika ribuan orang berduka di Kota Lod setelah seorang pria Arab diduga ditembak oleh seorang Yahudi.Jacob Simona berdiri di depan mobilnya yang terbakar dalam kerusuhan antara etnis Arab dan polisi di kota Israel, Lod, pada 11 Mei 2021. (AP Photo/ Heidi Levine)

Pertempuran yang terjadi di Lod ini sendiri pada akhirnya mengingatkan tentang tragedi yang jauh lebih mematikan di kota tersebut lebih dari setengah abad silam.
Peristiwa tersebut terjadi pada 30 Mei 1972, tepatnya di bandara internasional Lod (yang kini diberi nama bandara Ben Gurion), Tal Aviv, Israel.

Serangan tersebut dianggap sangat langka dan sungguh sulit dipercaya tak hanya oleh warga Israel, tapi juga hampir seluruh dunia.

Sebab, kewarganegaraan dari para penyerang dianggap mustahil terjadi jika merujuk pada alasan serangan mereka.

Ya, dengan penyebab serangan disebut karena ketidakadilan yang terjadi di Palestina, kewarganegaraan para penyerang dianggap tak lazim.

Semuanya berawal pada pukul 22.00 kala sebuah pesawat maskapai Air France yang berasal dari Roma, Italia, mendarat di bandara Lod.

Tiga orang pelaku penyerangan menginjakkan kakinya di Israel dengan menumpangi pesawat tersebut.

Selain karena kewarganegaraan, tas biola yang mereka jinjing juga turut membuat mereka dianggap sebagai penumpang biasa, tanpa menarik perhatian.Sistem pertahanan udara Kubah Besi (Iron Dome) Israel bekerja keras menahan gelombang serangan roket kelompok Hamas dari Jalur Gaza, Selasa 911/5/2021) hingga Rabu (12/5/2021). Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Apa yang Sebabkan Eskalasi Israel-Palestina Baru-baru Ini? Simak Penjelasan Berikut, https://www.tribunnews.com/internasional/2021/05/13/apa-yang-sebabkan-eskalasi-israel-palestina-baru-baru-ini-simak-penjelasan-berikut. Penulis: Andari Wulan Nugrahani Editor: Daryono (AFP/ Anas Baba)

Namun semua berubah ketika ketiganya memasuki ruang tunggu dari bandara dan membuka tas biola yang mereka bawa.

Senapan serbu VZ 58 buatan Cekoslovakia tiba-tiba menyeruak dan siap memuntahkan peluru-pelurunya.

Tanpa basa-basi, ketiganya langsung menembakkan senjata mereka secara membabi buta tanpa melihat siapa yang menjadi sasaran.

Tak hanya menggunakan senapan, mereka juga turut menggunakan granat yang dilemparkan kala mereka mengisi ulang peluru senapan mereka.

Tragis, salah satu penyerang justru tewas setelah tertembak tanpa sengaja oleh salah seorang rekannya sendiri.

Satu penyerang lainnya tewas karena ledakan dari granatnya sesaat setelah dirinya menembakin penumpang yang baru turun dari pesawar El Al.

Satu penyerang yang tersisa berhasil dilumpuhkan oleh peluru panas aparat keamanan bandara, lalu kemudian diamankan saat mencoba melarikan diri.

Serangan yang menewaskan 26 orang tersebut sontak membuat Israel mencekaml.

Begitu pula dengan satu negara yang menjadi asal dari ketiga penyerang.

Negara yang dimaksud adalah Jepang.

Ya, ketiga penyerang yang berdalih memperjuangkan ketidakadilan terhadap Palestina tersebut bukan berasal dari negara Arab atau negara mayoritas Islam lain.

Publik Jepang yang terhenyak akan kabar tersebut bahkan baru bisa mempercayai kabar yang beredar kala Pejabat Kedutaan Besar mereka di Israel memberi pernyataan resmi.

Ketiga pelaku, Kozo Okamoto, Tsuyoshi Okuidara, dan Yasuyuki Yasuda merupakan anggota dari Tentara Merah Jepang (JRA).

Namun, dalam penyerangan di Israel tersebut, mereka mengaku mewakili kelompok bersenjara Palestina PFLP-EO.

Okamoto, satu-satunya pelaku penyerangan yang selamat mengaku tak memiliki dendam dengan rakyat Israel.

"Tetapi saya harus melakuannya karena itu adalah tugas saya sebagai seorang prajurit revolusi," kata Okamoto, seperti dikutip dari kompas.com.

Pengadilan militer Israel selanjutnya menjatuhkan hukuman seumur hidup kepada Okamoto yang kemudian dibebaskan setelah menjalani hukuman selama 13 tahun pada 1985.Pecah perang saudara di kota Lod, Israel, saat Palestina sedang meradang karena serangan Israel (Twitter)

Roket Hamas Gempur Tel Aviv

Militan Palestina, Hamas menembakkan rentetan roket ke pusat ekonomi Israel Tel Aviv, Selasa (11/5/2021) sebagai pembalasan atas serangan Israel yang menghancurkan blok menara di Gaza.

Kedua kubu telah menembakkan tembakan terberat mereka selama beberapa tahun.

Eskalasi tajam, yang dipicu oleh kekerasan di Yerusalem, telah menewaskan sedikitnya 30 warga Palestina di Jalur Gaza yang diblokade dan tiga orang Israel, serta melukai ratusan lainnya.

"Ini baru permulaan" serangan Israel, kata Menteri Pertahanan Benny Gantz memperingatkan, seperti yang dilaporkan media CNA, Rabu (12/5/2021).

Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh bersumpah, siap untuk melakukan balasan jika Israel ingin meningkatkan serangan.

"Jika Israel ingin meningkatkan, kami siap untuk itu," ujarnya.

Utusan PBB untuk Perdamaian Timur Tengah, Tor Wennesland, memperingatkan bahwa Israel dan Hamas sedang menuju "perang skala penuh".

Di kantong Gaza yang padat dan diblokade Israel, 10 anak dan seorang wanita termasuk di antara mereka yang tewas sejak Senin malam.

203 orang lainnya dilaporkan terluka akibat serangan udara Israel yang sedang berlangsung, banyak yang diselamatkan dari reruntuhan bangunan yang membara.

Di Israel, sirene berbunyi saat roket Hamas menghujani, dan beberapa dari mereka yang tidak dapat mencapai tempat perlindungan bawah tanah berlindung di bawah jembatan.

"Itu menakutkan," kata Haim Roy Ben Shlomo, 38, warga Ramat Gan dekat Tel Aviv, menambahkan dia telah mendengar "beberapa tembakan keras, atau ledakan, di atas kepala kami".

Seorang wanita Israel tewas ketika roket menghantam Rishon Letzion di tepi selatan kota pesisir itu, sementara di dekat Holon, rekaman AFP menunjukkan bus yang terbakar saat petugas penyelamat membersihkan puing-puing.

Tembakan roket memaksa Israel untuk menangguhkan penerbangan di bandara utamanya di Ben Gurion, dekat Tel Aviv. (*)

(Tribunlampung.co.id/Virginia Swastika)

Iklan Atas Artikel

iklan 3

Iklan Bawah Artikel