Kisah Inspiratif Bripka Sodik, Telaten Suapi Gelandangan yang Kelaparan di Pinggir Jalan di Kediri

 

Kisah Inspiratif Bripka Sodik, Telaten Suapi Gelandangan yang Kelaparan di Pinggir Jalan di Kediri

Sosok polisi di Kota Kediri bernama Bripka Sodik ini patut dicontoh.
Jiwa sosialnya sungguh luar biasa.

Polisi yang menjadi Babinkamtibmas Mrican, Kota Kediri ini dengan telaten menyuapi seorang lansia yang lemas di pinggir jalan.

Bripka Sodik menyuapi pria bernama Wiji tersebut di tepi jalan di Kelurahan Mircan pada Kamis (4/2/2021) kemarin.


Wiji merupakan seorang gelandangan yang tak memiliki tempat tinggal.

Meski tidak mengenal pria tua itu, Bripka Sodik dengan penuh kesabaran menyiapinya.
Kakek lansia tersebut pun cukup laham disuapi nasi oleh Bripka Sodik.

Warga pun menyaksikan bagaimana telatennya Sodik dan nggota Linmas Mrican bergantian menyuapi orang yang terlihat lemas karena kepanasan dan seperti beberapa hari belum makan itu.

Sekretaris Satpol PP Kota Kediri, Nur Khamid menjelaskan, awalnya masyarakat melaporkan keberadaan Wiji yang terlihat lemas dan linglung di pinggir jalan Kelurahan Mrican, dan tergeletak di pinggir jalan depan sebuah warung kopi.
Dan menindaklanjuti laporan ke Kelurahan Mrican, Bripka Sodik dan anggota Linmas Mrican mendatangi lokasi tempat Wiji tergeletak.

Mengetahui Wiji lemas, anggota Babinkamtibmas dan Linmas membelikan nasi bungkus dan minuman kemasan.

“Selanjutnya petugas Satpol PP Kota Kediri menjemput Wiji untuk dibawa ke Barak Sosial Kelurahan Semampir,” kata Nur Khamid.

Ia menambahkan, warga memang melihat Wiji tergeletak di depan warung kopi sebelum kemudian ditindaklanjuti anggota Babinkamtibmas.

“Regu patroli bersinergi dengan linmas, TRC, ketua RT dan warga setempat, selanjutnya membawa Wiji ke Barak Sosial Semampir,” jelas Nur Khamid.

Dari pengakuan Wiji, ia memang tidak punya tempat tinggal tetap. Sehingga sehari-hari berpindah tempat sampai akhirnya kehabisan tenaga dan tergeletak di depan warung.

Kisah Polisi jadi Relawan Pemakaman Covid-19 Hingga Akhir Hayat

Tak memiliki rasa lelah terjun dalam kemanusiaan untuk menangani Covid-19.
Itulah gambaran sosok anggota Polda DIY bernama Aiptu Sri Mulyono.

Bahkan di akhir hidupnya, polisi yang kerap disapa Mul tersebut masih berupaya membaktikan diri di tengah perang menghadapi Covid-19.

Kini, sang pahlawan pandemi telah pergi.

Aiptu Sri Mulyono meninggal dunia, Minggu (20/9/2020) lantaran terjangkit Covid-19.
Berbulan-bulan kuburkan jenazah pasien Covid-19.

Terhitung selama 4 bulan Mul, demikian sapaan akrab Aiptu Sri Mulyono, bertugas menguburkan jenazah pasien Covid-19.
Sehari-hari mengurus jenazah pasien Covid-19 membuatnya harus mengenakan alat pelindung diri (APD).

Seolah tak kenal lelah, Mul selalu mengerjakan tugasnya memakamkan jenazah.
Komandan Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DI Yogyakarta Pristiawan Buntoro menyampaikan, Mul bergabung dengan posko sejak awal pandemi Covid-19 masuk ke Yogyakarta, tepatnya pada 23 Maret hingga 30 Juni 2020.

“Beliau bergabung dengan Aman Nusa Progo, satgasnya Polda DIY. Di dalamnya berisi anggota kepolisian. Salah satu unsurnya Kimia Biologi Radiasi (KBR) milik Brimob beliau bergabung pada satuan itu. Lalu diperbantukan,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (23/9/2020).

Ia menceritakan, Mul sering membagi ilmunya tentang kimia biologi radiasi yang dimilikinya.
“Termasuk stasiun dekontaminasi adalah sumbangsih dari beliau, sejak tanggal 30 satgas Aman Nusa Progo ada perpindahan, Pak Mul ada proses mutasi tidak lagi ikut dalam posko,” katanya.

Pristiawan mengatakan, dirinya memastikan Mul tidak tertular saat bertugas bersama relawan di posko.
“Kalau tertularnya dari mana saya juga tidak berani menyimpulkan karena sejak 31 Juni sudah sibuk dengan ketugasan beliau, yang pasti kita dalam kaitannya preventif memastikan beliau tidak terpapar dari posko,” ucapnya.

“Jadi intinya adalah bahwa kami bersaksi beliau orang baik banyak meninggalkan ilmu,” kata Pristiawan.

Sementara itu, Komandan Brimob Polda DIY Kombes Pol Imam Suhadi memberikan kesaksian bahwa Mul adalah orang yang berintegritas dan tidak memiliki rasa lelah saat melakukan kegiatan kemanusiaan.

“Kalau saat menyemprot disinfektan itu sering diberi uang rokok sama pemilik tempat yang disemprot, tetapi beliau selalu menolak. Ya, beliau luar biasa dedikasi sama kesatuan luar biasa. Bahkan terlalu baik pada masyarakat. Sehingga kadang-kadang tidak lihat kondisi badan,” ucapnya.

Ia membenarkan, Mul meninggal dan positif terinfeksi virus corona. Tak hanya Mul, istri dan anaknya juga terpapar virus corona.

“Iya positif Covid terakhir kan di rumah sakit pakai ventilator itu. Kebetulan keluarganya anak istrinya juga kena sekarang dirawat di rumah sakit,” tambahnya.

Lanjut Imam, Mul sempat dipindah ke Sabhara dan Samapta agar bisa beristirahat dari kegiatan relawan.
Namun, Mul sering tetap bertugas sebagai relawan tanpa sepengetahuan atasan.
“Sempat saya istirahatkan, saya pindahkan ke Sabhara sama Samapta. Tapi kadang beliau tanpa sepengetahuan kita masih berhubungan relawan,” katanya.

Ia berpesan kepada anggota kepolisian maupun para relawan untuk selalu menjaga kesehatan, jangan memaksakan diri jika merasa capek.

“Sebenarnya begini, tugas relawan maupun Brimob kepolisian ini sangat berat secara logika dapat virusnya dari zona-zona merah.

Tidak menjamin alat kita akan aman. Bahkan disinfektan yang kita hirup lama-lama bisa kanker,” katanya.

Sumber Artikel: tribunnews.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel