Nenek Ini Hidup Sendirian di Gubuk Tanpa Listrik dan Sering Menahan Lapar

 

Nenek Ini Hidup Sendirian di Gubuk Tanpa Listrik dan Sering Menahan Lapar




Era berumur bisa jadi jadi momok tertentu untuk sebagian orang.

Gimana tidak, sebab tidak hanya terus menjadi menyusutnya era produktif badan, pula hari- hari hendak terasa jauh lebih kesepian, menjemukan serta meletihkan.

Perihal itu pula yang tampak pada hidup nenek Luspina Situ.

Di umurnya yang telah menggapai 78 tahun, nenek Luspina menghabiskan sejauh waktunya dengan seseorang diri di suatu pondok reot berdindingkan pelupuh bambu serta berlantai tanah di Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Flores, NTT.

Hidup satu batang kara di umur petang sebab suami nenek Luspina, Yosef Lawe, telah tewas semenjak 6 tahun dahulu. Sedangkan dari pernikahannya beliau tidak dianugerahi anak.

Nenek Luspina juga melukiskan analogi hidupnya disaat si suami sedang terdapat serta sehabis tidak terdapat.

“ Dikala terdapat suami dahulu, kita kegiatan apa saja buat dapat beli beras. Saat ini, hidup aku terus menjadi kesusahan. Buat makan, aku ini sulit sekali. Buat makan aku sering- kali menunggu simpati kasih orang sebelah,” ucapnya, dikutip Kompas. com.

Yang memilukannya, di tengah keadaannya yang amat memprihatinkan semacam itu, sedang terdapat orang per orang tidak berhati yang sampai hati melakukan kejam kepadanya.

“ Belum lama ini aku terdapat jual mente danuang mendaparkanRp 300. 000. Namun, ketika aku tidur siang, duit itu dicuri orang. Saat ini telah tidak terdapat duit lagi. Ingin beli beras telah tidak dapat. Jadinya menunggu orang kasih  makan. Jika tidak, betul aku kuat saja rasa lapar,” tutur nenek Luspina, sambil mengelap air matanya.

Tidak cuma perkara makan, buat minum juga nenek Luspina kesulitan.

Perihal inilah yang hingga membuat badan nenek Luspina jadi amat langsing. Kesengsaraannya juga bertambah meningkat disaat malam hari.

Sebab di durasi ini, rasa kesepian di hatinya terus menjadi kokoh. Beliau cuma tiduran seseorang diri di gubuknya berdimensi 2 x 3 m, yang cuma diterangi suatu lampu pelita, sebab tidak terdapat gerakan listrik di rumahnya.

Lampu pelita itu juga tidak tiap malam bisa dihidupkan, sebab keterbatasan materi bakar. Dengan bermacam kesusahan itu, telah sepatutnya penguasa setempat mencermati nenek Luspina.

Tetapi apa energi, sampai cerita hidupnya mencuat, belum terdapat reaksi atau aksi dari aparatur dusun ataupun penguasa.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel