Sambil Dituntun Istrinya Yang Juga Sudah Tua, Kakek Tuna Netra Ini Harus Jalan Kaki 20 KM Cari Pelanggan Yang Mau Dipijat

 

Sambil Dituntun Istrinya Yang Juga Sudah Tua, Kakek Tuna Netra Ini Harus Jalan Kaki 20 KM Cari Pelanggan Yang Mau Dipijat

Kisah kesetiaan pasangan suami istri di Malaysia ini memberikan suatu pelajaran kehidupan. Sang istri rela melalui kehidupan bersama suaminya yang tunanetra. Mereka bekerja sebagai pasangan tukang pijak tunanetra keliling di sekitar Kota Bharu, Kelantan.

Namun, rasa cinta Fatimah Salleh tidak pernah pudar meski sang suami memiliki keterbatasan fisik. Selama ini, ia menjadi ‘tongkat’ penunjuk arah ketika berjalan kaki mencari rezeki sebagai tukang pijat di Kampung Talang, Kadok, Ketereh.

Fatimah Salleh dan Wan Mohamed Jaafar, biasa berangkat kerja paling awal jam 8 pagi. Dalam sehari mereka bisa berjalan kaki sejauh lebih dari 20 kilometer. Saat dalam perjalanan ini, Fatimah berada di depan, sementara Jaafar mengikuti di belakang.

Mereka berjalan kaki untuk pergi menemui pelanggan atau pergi mengunjungi rumah ke rumah sesuai dengan permintaan pelanggannya. Fatimah juga mengatakan mereka menjadi tukang pijat setelah mata suaminya kemasukan debu semen saat bekerja sebagai tukang bangunan sekitar 1998.

” Setelah kejadian itu, suami saya dirawat di Rumah Sakit Raja Perempuan Zainab II sebelum akhirnya divonis buta,” kenang Fatimah.

Penghasilan yang mereka dapatkan tergantung dari para pelanggan. Biasanya dalam menjadi tukang pijat tunanetra keliling, Fatimah dan Jaafar menerima 5 hingga 30 ringgit (Rp17 ribu hingga Rp104 ribu).

Diketahui mereka memiliki lima orang anak yang berusia antara 22 sehingga 40-an. Namun, anak-anak mereka juga hidup serba susah. Saking susahnya, mereka bahkan pernah makan ubi rebus yang ditanam di belakang rumah karena tidak ada uang untuk membeli makanan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel